Cinta Ibu di Gang Kecil

Tadi pagi ku bertemu sobat kecil, dengan kaki dan tangan mungil. Seorang wanita dengan sigap merangkulnya, mencengkramnya dengan lembut, dan membaringkannya di pangkuannya. Itulah ibunya. Dengan sabar botol susu itu disodorkan ke bibir mungilnya, dan kemudian meneguknya perlahan. Dirinya menggeliat, seluruh tungkainya bergerak tanpa irama, seakan akan dia berkata "aku ingin cepat gede bu! Akan kuhabiskan susu ini!".

Ibunya hanya tersenyum, mengarahkan lengan bajunya ke wajah sobat kecil tadi yang belepotan. Sorot matanya tajam fokus. Pikirannya terbang jauh, menembus ruang dan waktu. memikirkan langkah jitu untuk merancang masa depan makhluk mungilnya. Ibunya hanyalah wanita sederhana, penjaga toko kelontong kecil di pinggiran kota, tanpa beranda apalagi etalase kaca.

Sekedar distributor Rinso sasetan lah dan sedikit biang MSG di bungkusan snack angin. Namun, hal itu sama sekali tidak mengikis keikhlasannya, hal itu sama sekali tidak menghilangkan kelembutannya, dan hal itu SAMA sekali tidak menghapus kasih sayangnya.

Subhanallah, pagi ini aku belajar banyak. Pelajaran hidup berharga yang justru kudapatkan di depan teras kontrakan, bukan di bangku kuliah. Harga susu kaleng memang mahal! Harga kursi sekolah memang mahal! Harga hidup memang mahal! Namun, harga sebuah perjuangan tidaklah murah! Nasib ke depan adalah penjumlahan vektor antara 'asa' dan keputusan Tuhan. Resultannya lah yang mengarahkan kita ke tujuan sebenarnya. Ibu tadi sadar, anak ini adalah titipan Tuhannya, ruhnya ditiupkan dengan segala persiapan rizkinya. Ibu itu mengajarkanku usaha dalam payah, bukan keluh kesah dan ratapan. Ibu itu mengajarkanku semangat dan baik prasangka.




Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon