Negara Kaya Ini Tangani Gelandangan dengan GPS

jasadh.blogspot.com news - Maraknya tunawisma atau gelandangan kerap menjadi masalah bagi kota besar di dunia. Kehadiran tunawisma di berbagai sudut kota dianggap merusak keindahan kota. Dengan alasan inilah kadang di berbagai kota, tunawisma dilarang berkeliaran di area publik. Tak jarang, para tunawisma harus tersingkir ke pinggiran kota.



Tapi tak semua kota melakukan tindakan pengusiran tunawisma. Lihatlah kota Odense di Denmark. Kota terbesar ketiga di Denmark ini punya cara unik untuk mengelelola para tunawisma. Alih-alih mengusir mereka dari taman atau situs kota lainnya, pemerintah malah melayani mereka.



Melansir Citylab, Senin 22 September 2014, semua itu berkat penggunaan GPS yang melacak gerakan para tunawisma. Dengan membagikan pelacak GPS, pemerintah akan mengetahui ke mana mereka pergi, bagaimana mereka sampai di suatu tempat, sampai berapa lama mereka tinggal di situ.



Dilaporkan cara ini cukup jinak dan lebih bermartabat bagi tunawisma. Pemerintah mengumpulkan data melalui GPS bukan untuk mengusir para tunawisma melainkan ingin mengetahui pola pergerakan mereka.



Nah, begitu mengetahui pola dan lokasi berkumpul mereka, pemerintah kota langsung menyediakan sebuah lokasi, lengkap dengan layanan seperti bangku dan ruang kopi. Cara ini tak menggunakan petugas penertiban atau polisi sehingga para tunawisma merasakan keramahan kota.



Dilaporkan salah satu kunci mengapa para tunawisma merasa tertarik dengan program percontohan pemerintah kota itu yakni adanya penawaran bantuan makanan tiga kali dalam sehari selama periode riset.



"Mereka sama sekali tak paranoid. Mereka ingin berkontribusi pada penawaran yang ada sehingga kita memiliki kedamaian dan ketenangan di kota. Ini indah," ujar Tom Ronning, koordinator proyek tunawisma itu.



Ronning mengakui posisi Denmark yang merupakan negara sejahtera memungkinkan untuk menjalankan pelayanan kepada tunawisma dengan cara yang unik itu.



"Rekor Denmark dalam menampung tunawisma cukup bagus. Mungkin karena negara ini kaya dan masih memiliki tingkat tunawisma yang rendah," tambah dia.

Pemakaman Khusus Tunawisma


Namun demikian, menurutnya, langkah yang ramah dan penghormatan tunawisma sebagai warga kota menurutnya bakal memberikan perspektif lain. Ronning mengatakan pemerintah kota nantinya bisa menjalankan program manusiawi yang sederhana bagi pra tunawisma itu, misalnya dengan mendirikan pemakaman khusus tunawisma di Kopenhagen.



"Jadi negara mengambil langkah untuk mengetahui bagaimana kehidupan para tunawisma itu bisa ditingkatkan," ujar dia.



Langkah yang dilakukan kota di Denmark itu tampaknya sangat kontras dengan penanganan serupa di berbagai negara lain, misalnya di Amerika Serikat atau kota-kota di Eropa. Kota-kota itu masih memandang negatif para tunawisma dan tidak memberikan pelayanan yang diadopsi kota Denmark itu.



Misalnya di kota Madrid, sang walikota belum lama ini mendeklarasikan 'perang' melawan tunawisma. Caranya dengan mendesain 4 ribu bangku pemberhentian bus dengan model pembagian kursi. Desain ini akan menyulitkan bagi para tunawisma untuk tidur telentang di bangku. Dengan cara ini halte itu tak akan digunakan untuk tempat berteduh saat hujan tiba.



Bukan hanya Madrid saja yang garang dengan tunawisma. London juga tak ramah bagi para tunawisma. Juni lalu, pemerintah setempat menggunakan 'paku anti-tunawisma' yang di tempatkan di beberapa tempat tujuan tunawisma. Paku itu dianggap cara untuk mengusir 'hama' tunawisma.



Cara kota London itu kemudian menuai protes warga dan kemudian memaksa pemerintah kota menghilangkan paku itu dari situs penting kota. Cara melayani yang dilakukan pemerintah kota Odense, dianggap bisa menjadi perspektif baru dalam memandang para tunawisma dan membuat kota lebih baik bagi semua orang.






sumber viva

Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon