Cerita Tragedi 11 September dari Luar Angkasa

jasadh.blogspot.com news - Tiga belas tahun silam, serangan terorisme terhadap menara kembar WTC di Amerika Serikat menggoreskan luka mendalam bagi keluarga korban, Amerika Serikat dan dunia. Serangan itu meratakan menara kembar dan menimbulkan kerugian, kepedihan bagi warga dunia.



Meski lewat satu dekade, serangan itu masih menyisakan luka. Peringatan tragedi 11 September 2001 masih terus dilangsungkan di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat.



Peringatan tragedi itu juga dilakukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Melansir Space.com, Jumat 12 September 2014, badan antariksa itu menampilkan gambar dan rekaman runtuhnya menara kembar itu dari luar angkasa.







Mantan astronot NASA, Frank Culbertson menceritakan pengalamannya menyaksikan asap membumbung gedung WTC yang terlihat dari luar angkasa.



Saat tragedi itu terjadi, Culbertson tengah mengangkasa 400 Km di atas daratan Bumi. Dalam sebuah video testimoni dari Kennedy Space Center Visitors Complex, ia mengaku melihat asap besar dari gedung WTC. Culbertson saat itu berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang sedang dalam perbaikan, bersama dua kosmonot Rusia.



Melihat pemandangan aneh itu, naluri Culbertson langsung mengambil video dan foto tragedi itu, sementara satelit juga melacak serangan itu dari luar angkasa.



Ia menceritakan, para astronot tak mendapatkan tayangan siaran langsung dari TV di Bumi maupun akses internet di ISS. Naluri Culbertson dengan sigap mengambil kamera dan segera merapat ke jendela ISS, untuk mengabadikan pemandangan yang penuh asap hitam di atas New York.



Ia mengaku juga melihat jejak parah di sisi Pentagon, yang juga jadi sasaran teroris. Culbertson mengenang, pilot pesawat American Airlines 77 yang menabrak Pentagon adalah kolega sekelas sekaligus karibnya di Akademi Angkatan Laut AS, Charles Burlingame.



"Kami berupaya untuk melihat lebih banyak lagi. Satelit di setiap orbit pun merekamnya,"ujarnya.



Culbertson mengaku, hal yang mengejutkan usai tragedi itu adalah hilangnya penampakan jejak kondensasi asap pesawat terbang, yang biasanya malang melintang di langit Amerika.

Usai tragedi itu, Nasa tak bisa mendeteksi adanya pesawat terbang, kecuali pesawat kepresidenan Amerika, Air Force One.



"Kala itu adalah waktu yang sangat serius bagi kami," tambahnya. (ren)






via vivatekno

Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon