Menristek: Nuklir Bukan Benda yang Harus Ditakutkan

jasadh

Menristek Gusti Muhammad Hatta (foto: Feri Usmawan/Okezone) Menristek Gusti Muhammad Hatta (foto: Feri Usmawan/Okezone) JAKARTA - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sudah memiliki wacana untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung. Namun wacana ini kerap menjadi perbincangan yang menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak.



Pasalnya, sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki ketakutan tersendiri terhadap pembangunan PLTN ini. Jangankan PLTN, mendengar kata nuklir saja tak sedikit warga yang serta merta merasa cemas dan seketika khawatir terhadap efek yang diakibatkan oleh nuklir tersebut.



Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Gusti Muhammad Hatta, adalah salah satu orang yang mendukung akan penggunaan nuklir dalam berbagai hal. Termasuk mendukung pembangunan PLTN yang rencananya akan dibangun di Bangka Belitung. Karena melihat lokasi yang aman dan sumber daya uranium yang tersebar di kepulauan ‘Laskar Pelangi’ tersebut.



Menurutnya, PLTN adalah alternatif pembangkit listrik yang sangat menjanjikan karena biayanya yang sangat murah dan ramah lingkungan asalkan tidak terjadi kebocoran atau meledak.



“Ramah lingkungan dalam artian tidak mencemari, kecuali jika meledak saja yang orang takuti. Dalam satu kilogram itu bisa satu megawatt untuk pemakaian siang malam. Itu kalau pakai batu bara satu megawatt siang malam berapa ton itu?” kata Gusti, saat berbincang-bincang dengan Okezone di kantor Kemenristek.



Menurutnya, pemakaian batu bara dalam jangka waktu yang lama akan terus merusak lingkungan. “Membakarnya pencemaran, mengambil batu baranya merusak lingkungan, kalau diganti dengan nuklir kan lebih baik,” tambahnya.



Memang, manusia tidak mungkin selamanya bergantung kepada Bumi. Satu-satunya planet yang ditinggali manusia ini mulai sekarat, dan lama kelamaan akan habis jika dikeruk tanpa henti semua yang ada di dalam perutnya.



Guna mendapat penerimaan oleh masyarakat agar bisa membangun PLTN, Kemenristek tak hanya menyiapkan berbagai hal teknis, tetapi juga melakukan program sosialisasi serta penyuluhan kepada masyarakat. Khususnya warga Bangka Belitung. Dikatakan Gusti, Kemenristek juga menyekolahkan anak-anak kelahiran Bangka Belitung untuk memahami teknologi Nuklir, dengan harapan nantinya akan dipekerjakan di PLTN apabila sudah dibangun.



Penggunaan Nuklir sejatinya tak hanya dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, yang mana menjadi pandangan umum bagi banyak orang. Penerapan teknologi nuklir bisa mencakup berbagai bidang seperti kesehatan, pertanian, dan juga pangan.



Gusti mengatakan, sekarang ini Batan memiliki sebuah reaktor daya non-komersil yang dibangun di wilayah Serpong dengan daya 30 megawaat, namun hanya efektif digunakan 10 megawatt. Rekator nuklir tersebut sudah digunakan untuk keperluan dalam skala kecil, yakni seperti penggunaan nuklir untuk pendeteksi kanker, mengecek ginjal, serta di bidang pertanian yang bisa menghasilkan hasil panen berkali lipat.



Namun Gusti menyayangkan, pemerintah belum memberikan izin untuk dibangunnya PLTN tersebut. “Mental orang kita yang belum siap,” katanya mengakhiri.

(amr)




Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon