Terobosan Baru Pendeteksi Gempa Real Time Buatan Indonesia

jasadh

ilustrasi alat deteksi gempa (foto: Ist) ilustrasi alat deteksi gempa (foto: Ist) BANDARLAMPUNG – Dosen Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Darmajaya Lampung, Dodi Yudo Setyawan, melakukan penelitian untuk mengembangkan pendeteksi gempa dengan memanfaatkan ionosfer.



Bukan hanya menggunakan alat itu, penelitian yang dilakukan dosen ini juga melalui cara mengakuisisi data suhu tanah.



Dodi mengatakan, dengan memanfaatkan sensor SHT11, sehingga gempa dapat dideteksi dengan mengukur suhu atau temperatur dan kelembapan tanah.



Penelitian ini merupakan pengembangan dari sistem peringatan dini gempa bumi "real time" dengan menggunakan geomagnetism dan total electron content dan fuzzy logic.



"Jika sistem peringatan dini gempa bumi real time memanfaatkan fenomena medan eletromagnetik, maka kali ini saya memanfaatkan kenaikan suhu tanah pada kedalaman tertentu," katanya di Bandarlampung, Rabu (3/4/2014).



Ia menambahkan, pengoperasian alat tersebut juga memanfaatkan Arduino Uno dan modem Q2406b.



Terobosan Baru
Modem ini, kata dosen Jurusan Sistem Informasi ini, berfungsi mengirimkan data secara telematri (pengukuran jarak jauh). Dengan mengintegrasikan Arduino Uno, maka secara otomatis data suhu tanah dikirim dan diterima melalui modem di computer server.



Dodi menjelaskan, gempa bumi yang selama ini banyak menimbulkan korban jiwa memotivasi dirinya untuk konsen menciptakan alat peringatan dini gempa.



Menurutnya, gempa bumi merupakan gejala alamiah bumi untuk mempertahankan kestabilannya, dengan kata lain peristiwa bencana bumi pasti terjadi.



"Masalahnya, kita tidak dapat memperkirakan kapan gempa akan terjadi, besar kecilnya dan dimana letak gempa tersebut. Untuk itu penting sekali membuat sistem peringatan dini gempa secara otomatis agar kita dapat mempersiapkan segala sesuatunya," ujarnya.



Temuannya ini merupakan sebuah terobosan baru dalam menanggulangi bencana gempa. Sebab selama ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hanya bisa menginformasikan gempa setelah peristiwa terjadi.



BMKG belum mampu memprediksi waktu akan datanya gempa. Berbeda dengan sistem peringatan dini gempa bumi real time, sistem ini dibangun untuk mengantisipasi akibat gempa yang ditimbulkan, sehingga bisa mengkoordinasi bantuan oleh SAR.



Dodi berharap, selain bisa dipatenkan, karya ciptaannya tersebut dapat diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat.



"Selain dapat menyempurnakan penemuan sebelumnya tentang sistem peringatan dini gempa bumi real time dengan menggunakan geomagnetism dan total electron content dan fuzzy logic, penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan dan diimpelementasikan secara langsung," ucapnya. (ant)



(amr)




Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon