Sejumlah PLTA Siapkan Modifikasi Cuaca Hadapi Kemarau

jasadh

Proses modifikasi cuaca (Ist) Proses modifikasi cuaca (Ist) JAKARTA – Menghadapi musim kemarau panjang yang mulai dirasakan penduduk Bumi belakangan ini, sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengisi waduk dan danau, antisipasi kekeringan.



Kepala UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Heru F Widodo di Jakarta, mengatakan sejauh ini BPPT belum merekomendasikan pemanfaatan TMC untuk mengantisipasi musim kemarau kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).



Namun, menurut dia, pemanfaatan TMC telah diajukan beberapa perusahaan untuk menurunkan hujan di musim kemarau di sejumlah waduk dan danau yang memang airnya dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.



Beberapa perusahaan yang mengajukan pemanfaatan TMC kepada BPPT yakni PT Inalum di Sumatra Utara untuk mengisi air Danau Toba, PT PLN (Persero) Kalselteng sektor Barito untuk mengisi Waduk Riamkanan untuk PLTA Riam Kanan, dan PT PLN (Persero) Sumbagut untuk mengisi Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak.



"Untuk antisipasi kekeringan di provinsi-provinsi di Indonesia seperti di NTT dan yang lainnya kami belum memberikan rekomendasi. Kami hanya merekomendasikan pembentukan sembilan pos TMC di provinsi-provinsi penghasil asap," ujar dia.



Ia mengatakan rekomendasi kepada BNPB untuk pembuatan pos TMC di sembilan provinsi lebih bertujuan agar tidak terjadi darurat asap seperti di Riau.



Rekomendasi pembuatan sembilan pos pelaksanaan TMC sebagai antisipasi kabut asap tersebut diusulkan di Riau, Jambi, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.



Sebelumnya BPPT memang memperkirakan musim kemarau sudah akan terjadi pada Mei hingga Agustus 2014. "Puncaknya diperkirakan Agustus, dan akan kering sekali," ujar Heru.



Karena itu, selain untuk mengatasi titik-titik api yang mungkin masih akan muncul di sejumlah tempat, ia mengatakan antisipasi hujan di bawah normal diperlukan agar tidak berlanjut menjadi krisis air, krisis energi, dan krisis pangan.



Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Didi Satiadi mengatakan Bulan April merupakan masa pancaroba.



Masyarakat pun, menurut dia, perlu mulai melakukan antisipasi kekeringan karena hujan terakhir terjadi pada Bulan April, dan Juni akan menjadi sangat kering. (ant)

(amr)




Silahkan Meninggalkan Komentar Dengan Bijak dan Sopan
EmoticonEmoticon